Sunday, October 01, 2006

Islam di tengah pluralisme

Ceilleee....kayak judul buku. Tidak banyak kok, saya hanya akan membahas satu topik kecil untuk ini.
Sebentar lagi lebaran akan tiba. Kemudian handphone akan terus berdering menerima SMS ucapan lebaran dari semua teman kantor, luar kantor, saudara dan siapa saja. Tentunya saya senang dan merasa bersyukur. Di antara puluhan dan mungkin ratusan sms yang masuk, beberapa di anataranya adalah dari mereka yang tidak se-agama dengan saya.

Dulu, untuk mengucapkan selamat natal kepada teman saya, saya selalu mikir-mikir. Ada yang bilang tidak boleh. Ada yang mengangguk tidak apa-apa. Tapi persentase mereka yang melarang saya mengucapkan selamat natal lebih banyak dari mereka yang setuju. Seorang ustadz pernah mengatakan, “ Kita tidak perlu untuk mengucapkan selamat hari raya kepada umat lain, karena itu berarti kita mengakui agama mereka. Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah hanya Islam. “

Entah kenapa saya kok sedih dan merasa terganggu ya mendengarnya. Hati saya memberontak. Mengapa Islam agama yang dikatakan universal dan rahmatan lil alamin begitu egois dan angkuh untuk menerima perbedaan ? Tidakkah sadar jika mungkin agama lain juga mengatakan bahwa agamanya lah yang paling benar. Tetapi agama adalah keyakinan. Agama adalah buatan manusia. Terlepas dari berbagai unsur spiritual yang menyertainya dan hanya bisa diyakini dengan iman. Cuma, kenapa saya tidak boleh mengucapkan selamat hari raya kepada mereka teman-teman baik saya ?Hati pedih neeehhh.......

Ya, saya mengakui jika agama mereka ada. Tertera dalam ayatNya, “ Lakum Diinukum Waliyadiin” yang artinya bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Saya yakin Allah menciptakan juga berbagai kondisi dimana kita diberikan berbagai pilihan untuk belajar dan akhirnya memilih jalan yang kita anggap paling benar. Bahkan Nabi Muhammad tidak memusuhi agama lain kecuali mereka melakukan kekerasan. Nabi Muhammad menyebarkan agama dengan penuh kasih sayang, tidak dengan paksaan dan tidak dengan melecehkan atau bersikap memusuhi.

Buat saya amat picik mengartikan begitu saja untuk mengakui agama Islam adalah yang terbaik jika kita berarti TIDAK peka dengan mereka. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia ciptaanNya. Justru dengan mengucapkan salam kepada mereka berarti umat Islam menunjukkan empati yang besar dan cinta kasih terhadap sesamanya sebagai makhluk yang berinteraksi horizantal. Disinilah menurut saya letak kebesaran hati dengan penuh kerendahan yang dianjurkan. Saya tetap akan mengucapkan salam kepada mereka yang beragama lain bukan dengan maksud merendahkan agama yang saya anut namun dengan mengusung semangat ukhuwah terhadap sesama tanpa memandang agama.

Wong yang tau kadar keimanan kita terhadap Tuhan hanya Tuhan kita sendiri kok...:)Peace!

2 Comments:

At 8:51 PM, Blogger Savitri said...

Setuju banget jeng..kita hidup penuh dengan perbedaan. Keangkuhan hanya akan mendatangkan permusuhan. Alangkah congkaknya kita sebagai umat muslim..astaghfirullah

anyway..itu bukunya gus dur yak:D

 
At 6:55 PM, Anonymous John DOEs said...

kkkayaknya ada relevans ama imel yg baru tak kirim pagi ini triss...

jangan jadi pragmatis kalo hal yg "kecil" itu jadi masalah besar dalam 'hubungan horisontal (hablum minaanas)' kita dengan sesama ummat.
Tapi jangan lupa hal 'kecil' itu juga PRINSIP mendasar.

btw, jangan cuma resepnya doank ... sekali2 bawain testernya napa say
ehm... sluuurp, yumii

 

Post a Comment

<< Home